|
Situs Web Kawasan Puspiptek
SAINS TEKNOLOGI
|
Konter Pengunjung ke:
    
Sejak 1/1/2008
|
|
Rabu, 3 Mei 2006
Low vision Reading Aid dari ITB
Tak seorang pun menginginkan kehilangan penglihatan. Namun, berapa banyak yang benar-benar peduli dengan mereka yang mengalami masalah dengan penglihatan?
Adalah Perdana Argo Nugroho yang mendedikasikan tugas akhir (TA) kuliahnya bagi para penderita low vision (orang dengan keterbatasan lapang pandang). Pria kelahiran Jakarta 22 September 1981 menciptakan alat bantu baca yang diberi nama low vision Reading Aid (LVRA). Ia dinyatakan lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Program Desain Produk ITB.
Ketertarikannya untuk menciptakan LVRA berawal pada 2002 lalu. Saat itu, dokter mengatakan Dana menderita glukoma. ''Alhamdulillah, saya sih cuma perlu menggunakan obat tetes mata saja,'' kata Dana. Untuk membuatnya, Dana juga berkonsultasi dengan dr Sugiarti. Ia adalah dokter mata di RS Mata Cicendo, Bandung, sekaligus staf low vision di Wyata Guna, Bandung, yang memang peduli dengan soal low vision.
Menurut Dana, banyak yang tidak tahu apa itu low vision. ''Hasil survei yang saya lakukan di beberapa kota di Indonesia, menunjukkan sebagian besar masyarakat kita tak tahu apa itu low vision,'' ungkap pria berkaca mata yang biasa disapa Dana itu. Menurut situs www.medicinenet.com, low vision adalah sebuah kerusakan penglihatan yang tidak bisa diperbaiki dengan kaca mata, lensa kontak, obat, maupun operasi. Kerusakan penglihatan ini menyebabkan orang yang mengalaminya terhambat aktivitas sehari-harinya. Hasil survei di AS pada 1994, sebanyak 135 juta orang di dunia mengalami low vision.
Penyebab low vision adalah beragam penyakit, ketidakteraturan, atau luka yang berdampak pada mata. Menurut penelitian di Amerika, sebanyak 45 persen responden mengalami low vision dikarenakan faktor usia lanjut. Sisanya disebabkan oleh katarak, glukoma, atau gangguan pada retina dan lainnya. LVRA yang diciptakan Dana adalah sebuah alat bantu baca bagi para penderita low vision. Ia menciptakan satu alat dengan dua variasi, yaitu berkinerja tangan dan dengan sistem rel.
Secara umum, alat ini adalah kamera yang dihubungkan dengan layar televisi sehingga ukuran tulisan yang akan dibaca oleh para penderita low vision menjadi jauh lebih besar. Dengan demikian, para penderita low vision ini merasa nyaman untuk melakukan aktivitas membaca.
Bentuk LVRA berkinerja tangan adalah seperti mouse komputer -- sangat ergonomis di genggaman tangan orang dewasa dan mudah digerakkan. Alat ini adalah kamera yang jaraknya bisa diatur dengan objek (buku/tulisan yang dibaca) dan dihubungkan dengan monitor 14 inci. Untuk membantu penerangan kamera, mouse ini juga dilengkapi dengan dua buah lampu kecil di bagian bawahnya.
Perbesaran dari objek di layar televisi adalah 10 kali dari aslinya. Pada LVRA hasil ciptaan Dana ini, kameranya diset untuk jarak antara 1 cm dari objek hingga jarak 3 cm dari objek. ''Jarak ini dimaksudkan untuk membantu user agar merasa nyaman dengan besarnya huruf,'' ungkapnya. Objek yang disorot kamera kemudian dipancarkan oleh monitor. Kamera ini bisa menyorot baik objek berwarna maupun hitam putih.
Sedangkan LVRA dengan sistem rel agak lebih rumit karena mouse tersebut dimasukkan pada sepasang rel yang sudah ditata sedemikian rupa di atas sebuah papan baca. Pada sistem rel ini, mouse tak lagi berfungsi, karena perannya --untuk naik-turun atau maju-mundur mengikuti objek-- digantikan oleh rel yang memanjang sepanjang papan alas. ''Ada sebagian penderita low vision yang merasa tak nyaman dengan fungsi mouse, karena tak semuanya akrab dengan komputer. Dengan sistem rel ini mereka merasa lebih leluasa,'' tutur Dana.
Dana membutuhkan waktu delapan bulan untuk menciptakan LVRA ini. Biayanya sebesar Rp 1,2 juta. Komponen paling mahal adalah kamera yang harganya mencapai sekitar Rp 600 ribu. Obsesi Dana saat ini adalah LVRA bisa ditemukan di banyak ruang publik seperti perpustakaan, sekolah, swalayan, dan sebagainya. ''Kalau alat ini ada di tempat-tempat umum, para penderita low vision pasti sangat terbantu,'' ungkap Dana yang berharap ada investor atau pihak lain yang mau memproduksi massal alat tersebut.
Perlunya alat ini di tempat publik, kata Dana, karena pada kenyataannya ada penderita low vision dan mereka perlu mendapat perhatian. Namun, Dana juga mengaku maklum dengan ketidaktahuan dan kekurangpedulian banyak pihak mengingat low vision di Indonesia baru dikenal sejak 1999. Karena itu, ia pun tergerak untuk membantu para penderita low vision agar lebih bisa beraktivitas.
LVRA karya Dana sudah diujicobakan kepada lima penderita low vision dengan beragam tingkat keterbatasan penglihatan. ''Semuanya bisa menggunakan alat ini, kecuali satu orang. Yang satu orang ini kehilangan daya kontras matanya, sehingga kesulitan untuk mengakses alat ini,'' paparnya. Ia menambahkan, memang tak ada alat yang benar-benar berguna bagi semua orang. Karenanya, ia tak berkecil hati dengan adanya penderita low vision yang tak bisa menggunakan LVRA tersebut.
Mengenai LVRA buatan Dana, dr Sugiarti mengatakan, alat tersebut cukup efektif. Saat ini, kata dia, alat yang ada di RS Mata Cicendo berasal dari luar negeri. Bentuknya mirip dengan buatan Dana tapi tak bisa dibawa ke mana-mana karena kameranya hanya bisa dihubungkan ke satu monitor.
''Selain di RS Cicendo, kami pun memiliki satu alat bantu penglihatan di Wyata Guna dan tiga kamera CCTV. Untuk membeli alat bantu penglihatan itu harganya sangat mahal dan kualitasnya juga masih harus diperbaiki,'' kata dia. Karena itu, ia mendorong perlunya LVRA yang dibuat Dana untuk diperbanyak.
Fakta Angka
4,5 juta
Perkiraan jumlah penderita low vision di Indonesia
low vision yang masih Tersembunyi
Istilah low vision masih asing bagi sebagian besar masyarakat. Penyakit mata yang disebabkan oleh berbagai penyakit ini berbeda dengan buta total (blind). Pasalnya, seseorang yang mengalami low vision masih bisa melihat meskipun lapang pandangnya sempit.
Namun, karena minimnya informasi, maka penanganan terhadap low vision sering disamakan dengan tuna netra yang sudah benar-benar buta. Menurut pakar penyakit glukoma dan low vision dari Rumah Sakit Mata Cicendo, dr Sugiarti, penyakit low vision adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh penyakit apa saja. Bisa disebabkan oleh penyakit syaraf, glukoma, komplikasi operasi, dan lain-lain. Pokoknya, semua penyakit yang menyebabkan buta tapi penderita itu belum buta seluruhnya maka disebut low vision.
''Penderita low vision bisa melihat tapi hanya sepertiga dari penglihatan dan lapang pandangnya jadi seperti melihat dari teropong,'' ujar Sugiarti kepada Republika. Penderita low vision yang terdata ke permukaan, kata Sugiarti, masih kecil. Sebagai estimasi, jumlah total kebutaan di Indonesia saat ini adalah 1,5 juta. Sementara, jumlah penderita low vision yang harus dibantu di Indonesia diperkirakan tiga kali dari jumlah masyarakat yang mengalami kebutaan atau sekitar 4,5 juta.
(Sumber Republika,n aan/kie/Web )
|
|